Kamis, 17 Januari 2019
Membanggun generasi muda yang Bertaqwa
Di Papua terjadi perang antar suku, di NTB terjadi perang antar
desa, di Madura terjadi bentrok antar kelompok, di Pontianak terjadi
bentrok antar mahasiswa, dan di Jakarta terjadi tawuran antar pelajar.
Yang terakhir ini justru dalam seminggu terjadi dua tawuran yang menelan
dua korban jiwa.
Sila ke tiga Pancasila, yakni Persatuan
Indonesia seolah lenyap dari hati sanubari mereka yang sedang bertikai.
Yang bersemayam di dalam dada hanyalah angkara murka. Nilai kebersamaan,
kekeluargaan, dan persaudaraan seolah sirna.
Bhinneka tunggal
ika seolah tinggal menjadi slogan kosong belaka. Satu nusa, satu bangsa
dan satu bahasa Indonesia yang menjadi ikrar bersama dalam Sumpah Pemuda
seolah terlupakan.
Apa jadinya bangsa ini bila para pemuda
kehilangan jati diri mereka sebagai bangsa yang berbudaya dan
berkepribadian mulia? Banyak pemuda yang mengalami degradasi moral,
hidup jauh dari tuntunan agama, menyia-nyiakan shalat, dan
memperturutkan hawa nafsu, maka wajar kalau mereka tersesat.
(Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka
kelak akan menemui kesesatan.) [QS Maryam : 59]
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Padahal sebagai keturunan para nabi kita mestinya tunduk patuh kepada
Allah, tersungkur dengan sujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat
Allah.
(Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi
ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari
orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan
Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah
Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada
mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.) [QS Maryam
: 58].
أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ
النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ
وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا
وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا
سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Dan merasa ni’mat, beruntung dan bangga dengan Islam yang dianugerahkan Allah kepada kita semua.
(Mereka merasa telah memberi ni’mat kepadamu dengan keislaman
mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi ni’mat kepadaku
dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan ni’mat
kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah
orang-orang yang benar”.) [QS Al-Hujurat : 17]
يَمُنُّونَ
عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ بَلِ
اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
Saudaraku, hancurnya suatu bangsa dimulai dengan
kerusakan moral generasi mudanya. Oleh karena itu untuk menghindari
kehancuran bangsa ini, pembangunan moral generasi muda harus mendapat
prioritas.
Kajian-kajian Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan
As-Sunnah harus dihidupkan dimana-mana. Di kampung, kita gerakkan para
pemuda, ibu-ibu anggota PKK, dan bapak-bapak anggota kelompok ronda
untuk gemar mempelajari dan mengamalkan agama.
Kita utamakan
kebersamaan dan kekeluargaan untuk membangun persatuan dan kesatuan.
Kita lapangkan dada menerima perbedaan untuk menghindari perselisihan
dan permusuhan. Harus senantiasa kita segarkan dalam ingatan kita bahwa
bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.
Di sekolah dan kampus
kita gerakkan pada pelajar dan mahasiswa untuk menyisihkan sebagian
waktu mereka guna mendalami agama dan membangun keimanan dan kepribadian
mereka sesuai nilai-nilai moral yang diajarkan agama. Ilmu tidak akan
bermanfaat bagi kehidupan mereka yang kekal di akhirat tanpa dilandasi
iman. Di kantor dan instansi kita bangkitkan semangat para kolega untuk
lebih mendalami agama dan mewarnai hidup dengan jiwa agama.
Sebagai pemimpin kita tumbuhkan kesadaran sebagai pelayan ummat.
Pemimpin yang berjiwa besar adalah yang mengutamakan sikap melayani,
mengasihi, dan menyayangi ummat. Sebagai orang yang dipimpin kita
tumbuhkan semangat untuk melaksanakan tugas, selama tidak bertentangan
dengan agama.
Orang yang terpimpin yang baik adalah yang
menghormati pimpinannya, tha’at melaksanakan tugas dan berprestasi dalam
bidangnya. Allah akan menilai seluruh aktivitas positif di kampung, di
kampus, dan di kantor sebagai amal shalih bila dilandasi dengan iman
yang benar, yang semuanya akan memberikan kontribusi terhadap
pembangunan ketaqwaan kepada Allah.
Taqwa itulah yang akan menjadi bekal terbaik kita menghadap Allah dalam kehidupan di akherat kelak.
(Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan
bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.) [QS Al-Baqarah :
197];
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ
الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا
تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ
(Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan) [Al-Hasyr : 18]
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hanya orang-orang yang bertaqwa sajalah yang bisa memakmurkan dunia,
membangun persaudaraan yang hakiki dan menghindari perpecahan dan
kehancuran. Semoga Allah membimbing bangsa Indonesia menuju ketaqwaan,
aamiin.
Budi daya ulat sutra => Terk &Gambar
Pada
budidaya ulat sutera area pemeliharaan ulat kecil dikerjakan pada
tempat yang khusus disebut UPUK (Unit Pemeliharaan Ulat Kecil). Ruang
pemeliharaan pada budidaya ulat sutera
perlu dilengkapi dengan jendela atau ventilasi untuk sarana sirkulasi
udara supaya suhu yang ada di dalam ruangan tetap terjaga.
Ruang
pemeliharaan untuk budidaya ulat sutera minimal dilengkapi dengan kotak
atau rak untuk tempat pemeliharaan ulat sutera, gunting stek, area
daun, pisau, jaring ulat, ember/baskom, ayakan, kain penutup daun, hulu
ayam, kertas minyak/parafin, kerta alas, lap tangan dan lain-lain.
Pengembangan
ulat sutera jenis samia cynthia ricini, mempunyai nilai yang sangat
bagus untuk meningkatkan ekonomi di daerah dan kesejahteraan masyarakat
daerah. Oleh karena itu, ulat itu tidak makan daun murbei seperti jenis
ulat sutera biasa. Melainkan bisa memakan daun singkong yang banyak
terdapat di daerah Wonogiri.
Penelitian
budidaya ulat sutera pemakan daun singkong yang sedang dikembangkan di
Kabupaten Wonogiri, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
produktifitas petani, kualitas, dan kapasitas produksi pertanian yang
belum sepenuhnya di adopsi oleh para petani sebagai masyarakat petani
agro industri.
Proses pemeliharaan ulat surtra
Tahapan
pertama untuk budidaya ulat sutera ialah persiapan. Untuk mempersiapkan
peternakan ulat sutera, ada tiga hal yang paling utama yaitu tempat
pemeliharaan, bibit, dan pakan. Kandang ulat sutera berbentuk ruangan
dengan rak didalamnya.
Alangkah
baiknya sediakan juga dua ruang yang berbeda untuk teknik beternak yang
ditujukan untuk ulat sutera kecil dan ulat sutera besar. Pastikan
ruangan mempunyai ventilasi dan jendela dan didesinfektan 2 atau 3 hari
sebelum pemeliharaan ulat dimulai dengan memakai larutan kaporit 0,5%
atau formalin (2-3%) disemprotkan secara merata ke seluruh raungan
tempat pemeliharaan.
Bibit Ulat Sutera
Persiapan
yang kedua dalam teknik budidaya ulat sutera ialah menyediakan bibit
ulat sutera. Pesanlah bibit sekurang-kurangnya 10 hari sebelum
pemeliharaan ulat akan dimulai dan lakukanlah inkubasi supaya
penetasannya merata.
Sebarkan
telur di dalam sebuah kotak penetasan lalu ditutup dengan menggunakan
kertas putih tipis. Selanjutnya simpan pada kotak di dalam tempat sejuk
yang terhindari dari sinar matahari secara langsung, di suhu berkisar 25
derajat celcius sampai 28 derajar celcius dan kelembaban sekitar 75
sampai 85%. Setelah terlihat bintik biru di telur, bungkus memakai kain
hitam selama 2 hari, dan telur pun akan siap untuk dikembangbiakkan.
Pakan Ulat Sutera
Hal
yang tidak kalah pentingnya di dalam berternak ulat sutera adalah pakan
atau makanan ulatnya. Selain tanaman murbei, ulat sutera juga mempunyai
kemamupuan lain untuk memakan tanaman selain tanaman murbei. Pakan
tersebut adalah dari daun singkong.
Sebelum
melakukan budidaya ulat sutera pemakan daun singkong ini sebaiknya
dilakukan penanaman singkong terlebih dahulu supaya ketersediaan pakan
ulat sutera saat sudah menetas dan berkembang bisa terpenuhi dengan
baik. Dalam hal melakukan penanaman singkong untuk budidaya ulat sutera
terdapat 2 metode yaitu Stek mata untuk hasil umbi yang bagus, lalu
jarak tanam rapat 5 cm x 5 cm untuk hasil daun singkong yang banyak.
Siklus Hidup Ulat Sutera
Siklus
hidup ulat sutera dimulai dari telur yang menetas menjadi ulat kecil
dan berkembang menjadi ulat dewasa, kemudian berubah menjadi pupa atau
kepompong, dan akhirnya menjadi ngengat yang akan menetaskan telur lagi.
Ada lima fase atau instar selama hidup ulat sutera dimana pada setiap
akhir instar, ulat sutera akan mengalami masa tidur atau istirahat,
serta pergantian kulit. Pada instar 1 hingga instar 3, ulat sutera
disebut ulat sutera kecil, sementara pada instar 4 sampai 5 ulat sutera
disebut ulat sutera besar.
Proses Pemeliharaan atau Perawatan Budidaya Ulat Sutera
Ulat
yang baru menetas dari kotak inkubasi dipindahkan kedalam tempat
pemeliharaan untuk ulat kecil dan diberi makan secara teratur tiga kali
sehari pada pagi, siang, dan sore hari. Setelah itu, kurang lebih 4
hari, ulat muda akan berada pada akhir instar pertama dan kemudian akan
mengalami masa tidur. Pada masa tidur, ulat ditaburi kapur dan tidak
perlu diberi makan, serta jangan lupa untuk membuka ventilasi dan
jendela supaya udara mengalir dengan baik.Setelah itu, instar kedua pun
dimulai. Ulat kembali diberi makan hingga kembali mengalami masa
istirahat pada akhir instar.
Lakukan
hal yang sama dalam memelihara hingga ulat berada pada akhir instar
ketiga. Pada saat tersebut ulat sudah berukuran cukup besar dan harus
dipindahkan ke ruangan yang lebih luas dengan suhu 24 sampai 26 derajat
celcius dan kelembapan sekitar 70 sampai 75%. Pada instar kelima, ulat
akan mulai mengkokon. Ulat yang siap mengkokon dipindahkan kedalam alat
pengokonan yang dapat terbuat dari karton, plastik atau bambu.
Pengkokonan berlangsung selama sekitar 7 hari dan selanjutnya kokon siap
dipanen dan dipasarkan atau diolah sebagai benang bahan baku pembuatan
kain sutera.
Sejarah Pulau Penyenggat
Alkisah, nama pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada awal abad
ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor-Riau yang
kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatera (masih di Riau).
Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau (akhir
abad ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997
diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini
sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan, dari
kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Kamis, 10 Januari 2019
Internet pertamaku
Assalammualaiku wr wb...
perkenalkan nama saya tengku sofyan hidayat
Baiklah pada kesempatan inin saya akan menceritakan perkenalan pertama saya mengenal internet.
semenjak saya mengenal internet begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan serta saya lebih banyak tau tentang perkembanggan teknologi.
Dan awal saya mengenal internet pada saat saya masih menginjak sekolah
Madrasah,pada saat itu guru TIk saya mengajarkan tentang komputer ,ada suatu bab yang menjelaskan tentang teknologi internet disitulah saya mulai memahami
internet dan bisa merasakan kemudahannya, dalam mengerjakan tugas yang guru
berikan, saya juga melanjutkan pelajaran internet saya pada saat
menginjak SMA, disitulah saya bisa lebih banyak mengetahui tentang
internet, setidaknya ada sedikit peningkatan yang dapat pada saat SMA dan
salah satu pelajaran yang saya gemari ialah internet, karna belajar
internet itu seru apalagi pada saat itu banyak sekali orang
berlomba-lomba untuk mempelajari internet,dan sampai saat ini saya masih mengunakan teknologi internet,karna pada jaman yang modren ini internet ,sudah masuk kedalam kehidupan kehari-hari,apalagi saya bermanfaat bagi ibu rumah tangga mereka bisa mengakses resep-resep makannan dan banyak lagi yang bisa dimanfaatkan dari kecangihan internet.
Mungkin itu saja yang dapat saya ceritakan mungkin teman-teman bisa mencontohkan dari sisi baik yang ada didalam cerita pengalaman saya sejak awal mengenal internet,dan lebih cerna dalam mengunakan internet. Sekian dari saya terimakasih...
By.Tsofyan hidayat
Langganan:
Postingan (Atom)






